New York, Nazara News – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia setelah pidatonya dalam Sidang Umum PBB, Selasa (23/9/2025) waktu setempat. Trump secara terbuka mengecam langkah sejumlah negara Barat yang baru-baru ini mengakui Palestina sebagai negara, sekaligus melontarkan kritik tajam terhadap peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam pidatonya, Trump menilai pengakuan Palestina hanya akan memberi keuntungan besar bagi Hamas dan memperpanjang konflik. Ia menegaskan seharusnya negara-negara dunia lebih fokus mendesak pembebasan para sandera yang masih ditahan di Gaza.
“Alih-alih menyerah pada tuntutan tebusan Hamas, mereka yang menginginkan perdamaian seharusnya bersatu dengan satu pesan: bebaskan para sandera sekarang juga,” ujar Trump, dikutip Reuters.
Sejumlah negara seperti Prancis, Inggris, Kanada, Australia, hingga Portugal, baru-baru ini secara resmi mengakui Palestina. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk frustrasi terhadap Israel dan untuk mendorong solusi dua negara. Namun kebijakan ini membuat Israel dan AS berang.
Langgar Batas Waktu Pidato
Pidato Trump juga menuai sorotan karena berlangsung 56 menit, jauh melebihi batas maksimal 15 menit yang ditetapkan. Tanpa teks naskah akibat teleprompter di markas PBB yang disebutnya rusak, Trump berbicara panjang lebar mengenai berbagai isu.
Selain konflik Palestina, Trump membahas kebijakan imigrasi, perubahan iklim yang disebutnya “tipuan”, hingga desakan agar Eropa memberlakukan tekanan ekonomi pada Rusia. Ia juga sempat menyindir Wali Kota London Sadiq Khan dan mengklaim inflasi di AS sudah terkendali, meski pernyataan itu berlawanan dengan laporan terbaru The Fed.
Kritik Pedas untuk PBB
Dalam forum internasional tersebut, Trump tidak hanya menyerang negara-negara pendukung Palestina, tetapi juga mempertanyakan eksistensi PBB itu sendiri.
“Apa tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa? PBB punya potensi yang luar biasa, tapi sebagian besar hanya menghasilkan surat-surat tegas tanpa tindakan nyata. Itu omong kosong, dan omong kosong tidak akan menghentikan perang,” tegasnya, dilansir CNN International.
Trump bahkan menyindir kondisi markas besar PBB yang menurutnya penuh masalah teknis, mulai dari lift rusak hingga teleprompter tidak berfungsi.
Meski menuai kritik tajam, Trump tetap menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang, menurut klaimnya, pantas mendapat Hadiah Nobel Perdamaian karena berhasil mencegah sejumlah perang.***


Komentar